Mimpi Gadis dalam Tong Sampah
Sayup Adzan subuh terdengar merdu dari Langgar sebelah
kost membangunkan Siti dari mimpi indahnya. Mimpi indah yang selama ini
menghampiri tiap malam-malamnya. Mimpi mendapatkan beberapa lembar uang. Mimpi
mengirimkan uang pada Mak nya di kampung. Mimpi hidup dalam kecukupan. Mimpi
yang selalu kabur saat adzan subuh berkumandang. Bergegas Siti mengambil air
wudhlu, membasuh sisa-sisa mimpinya, menyadarkannya pada dunia yang menantang
kepadanya. Dunia yang tersenyum meremehkan kelemahannya, mementahkan semua
usaha dan kegigihannya. Dunia yang ingin Ia taklukkan dengan tangan mungilnya.
Bermodalkan tekad dan ijazah SMP, Siti mengadu untung
merantau ke kota. Ia berharap dapat menyekolahkan adik-adiknya. Ia berharap
dapat mengobatkan Mamaknya dan Ia berharap dapat membuat Bapaknya tersenyum di
surga. Siti, dengan ijazah yang dengan sudah payah Ia dapatkan di desa. Ijazah
tertinggi yang dapat dimiliki orang-orang kampung macam dia, Siti bertekad akan memperbaiki nasib
yang kurang berpihak pada keluarganya.
Siti menjerang air, menanak karak yang dibekalkan
Mamaknya untuk menyambung hidup di tanah rantau. Segenggam karak, nasi ketela
yang sudah dikeringkan Mamaknya, Ia masak untuk mengganjal perutnya seharian
ini. Secuil ikan asin Ia goreng menemani nasi karak yang telah Ia masak. Hari
ini Siti harus mendapatkan
pekerjaan, supaya Ia dapat merasakan makanan yang lebih lezat dibanding yang
setiap hari Ia santap.
Mengenakan baju terbagus miliknya, Siti mulai menjajakan
ijazah yang Ia miliki. Matanya jelalatan mencari sebuah kata di setiap sudut
kota, kata “lowongan” yang ditempel di toko-toko, di tembok-tembok bahkan di
tong sampah sekalipun merupakan sebuah kata ajaib yang dapat membawa perubahan
dalam hidupnya. Kota sebesar ini, kata “lowongan” sebanyak ini, sampai malam
selarut ini, sampai kaki Siti tak kuat berjalan lagi, sampai kaki mungil itu
membengkak tergores aspal jalanan, tak
satupun pekerjaan yang Ia dapatkan. Ijazah yang Ia bangga-banggakan,
satu-satunya penyemangat yang Ia gantungkan harapan padanya, ternyata tak mampu
menolongnya. Mereka tidak menerima pekerja lulusan SMP, bahkan untuk seorang
penjaga warung kecil sekalipun.
Berminggu-minggu Siti berkeliling kota, mengiba-iba
siapa tahu ada pekerjaan yang halal baginya. Kakinya terus melangkah, matanya
nanar mencari-cari kata ajaib, sampai Ia hampir putus asa, akhirnya Ia
mendapati satu lagi kata lowongan tertempel di sebuah rumah mewah di pinggir
gang sempit yang ditelusurinya. Matanya yang sudah meredup kini berbinar kembali,
membayangkan adik-adiknya akan bersekolah tinggi, Mamaknya akan sembuh kembali,
Siti bergegas mengetuk pintu besi yang besar itu. Belum sampai jemari kecilnya
meraih pintu yang kokoh membentang di hadapannya, Siti merenung sesaat, warung
kecil yang sudah pernah Ia singgahi saja tak sudi menerimanya, apalagi rumah
mewah sebesar ini. Hatinya berkecamuk, gelisah kini. Ia mondar-mandir di depan
pintu. Sebentar tangannya hendak meraih pintu, sebentar kemudian Ia urungkan
kembali, lama Ia bertingah seperti itu. Kekawatiran jelas terlihat di raut
wajahnya, dengan membaca doa, dia menguatkan hatinya, mengetuk pintu yang
terlalu besar dibanding tubuh mungilnya.
Sudah seminggu ini wajah Siti tersenyum cerah, seakan tak
ada satu awanpun yang mampu singgah di sana. Ia bekerja dengan rajin. Menyapu,
mengepel, memasak, Ia lakukan semua yang diperintahkan majikannya. Tak kenal
lelah Ia bekerja, berangkat pagi kembali lagi saat malam sudah larut, begitulah
pekerjaan yang Ia cintai itu. Pekerjaan yang akan membawa dia menyekolahkan
adik-adiknya. Pekerjaan yang akan membuat dia bisa melihat Mamaknya sehat
kembali. Ia menikmati pekerjaan yang menguras semua tenaga mungilnya itu, demi
hidup yang layak bagi dunianya yang tak berpihak.
Malam begitu gelap, walau hati Siti tetap cerah,
dengan tenaga yang tersisa setelah seharian dikuras untuk bekerja ditempat
majikannya. Langkahnya gontai, meski ada senyum kecil yang terselip di sudut
bibirnya. Siti mencegat angkot yang melintas di jalanan sepi itu, seorang diri
Ia menguatkan hatinya untuk mendapatkan barang sebuah angkot saja. Lama Ia
menunggu, akhirnya muncul pula yang ditunggui Siti dengan setia. Layaknya
seorang gadis menunggu kedatangan kekasihnya, malam itu, Siti berdua saja
dengan sopir angkot. Layaknya seorang gadis yang dijemput kekasihnya di jalanan
yang sepi itu, Siti memasuki angkot dengan berdua saja dengan sopirnya yang
bersembunyi di balik setir.
Satu jam berlalu, hari berganti menjadi minggu, minggu
berubah menjadi bulan, Siti tak kunjung mengirimkan uang pada Mak nya di desa.
Siti tak kunjung memberikan adik-adiknya uang saku yang amat dinanti. Apakah
Siti sudah lupa tujuan awalnya ke kota? Apakah Ia sudah melupakan Mamak dan
Adik-adiknya? Apakah Siti mungil sudah tak peduli keluarganya lagi? Sitikah gadis desa yang mulai serakah pada
kehidupan kota yang penuh keglamorannya? Tak ada yang peduli dengan semua itu,
kecuali keluarganya yang menggantungkan harapan padanya, kecuali tukang sapu
jalanan yang menemukan tubuh mungilnya tanpa busana, meringkuk di dalam tong
sampah di pinggiran kota. Tak ada satu orangpun yang peduli, Dia, Siti, gadis
yang bermimpi menggapai dunia yang lebih indah. Gadis yang ingin meraih
keberuntungannya. Gadis yang memendam cita-cita menyembuhkan Mamaknya. Gadis
yang menaruh harapan akan menyekolahkan adik-adiknya. Gadis yang menahan lara
dan letih bekerja sehari semalam dalam rumah megah. Siti, gadis itulah yang
kini teronggok dalam tong sampah di pinggiran kota.
Komentar
Posting Komentar