BUALAN
Aku adalah wanita pecinta kejujuran,
meskipun tak jarang aku menemukan diriku sendiri tengah berbohong. Itulah yang
selalu kujadikan alasan agar kau tak pergi dariku, meski sejengkalpun.
Membelenggumu dengan berdalih kejujuran, aku membuntuti mu kemanapun kamu
melangkah, bahkan terkadang ke toilet sekalipun? Sebenarnya ini bukan ideku,
ini gagasanmu. Membuat kita harus salinng terbuka dan mengetahui dikoordinat
berapakah di muka bumi ini kita berpijak. Sepertinya kamu menyesalinya, karena
permintaanmu itu menjadi boomerang bagimu, layaknya seorang penguntit aku
selalu mempertanyakan segalanya tentangmu, tak pernah berhenti, dan tak ada
habisnya.
Aku wanita tidak jujur yang sangat
menghargai kejujuran. Sekali lagi, dengan dalih itu aku memanfaatkannya untuh
nyerocos tiada henti setiap menit kepadamu. Entah kamu sungguh mendengarkan
atau tidak, aku bahagia kamu hanya membiarkanku begitu. Tidak semua hal bisa
kukatakan kepadamu, karena aku wanita, kamu pasti tahu, meski aku juga tahu
kamu mengerti segalanya yang tak pernah terucap dari bibirku yang sama sekali
tidak seksi ini.
Wanita yang penuh kebohongan dan memaksa
diri untuk jujur, sepertiku, seringkali mengatakan kejujuran yang tidak perlu.
Kamu pasti tahu maksudku, karena kamu tiap kali terluka karena ini. Ini tidak
berhenti hanya disini, aku kerapkali menyiksamu dengan kejujuran berlebihan
yang kupaksakan dengan kombinasi ketidakpekaanku. Teman-temanku acapkali
mengolokku betapa tidak pekanya aku, dan aku mengakui itu, sungguh, meskipun
aku berusaha tapi sifat ini tidak bisa pergi begitu saja meninggalkanku. Kamu
harus tahu, aku juga tersiksa dengan sifatku yang seperti ini.
Kukatakan lagi, mungkin kamu sudah tahu,
harusnya begitu, karena mengingat waktu yang kita habiskan bersama bukan hanya
sekedar hitungan bulan, kukatakan aku benar-benar tidak berniat dan sama sekali
tidak berminat untuk membuatmu terluka, sungguh. Aku wanita yang membulatkan
tekat untuk membuatmu tertawa, kamu tahu tawamu selalu menggoda, dan aku
menggilai itu, meskipun cemberutmu juga menawan menurutku. Aku tidak suka
melihatmu terlihat murung, atau mengerutkan keningmu, itu membuatmu terlihat
tua, dan aku semakin tidak suka raut wajahmu itu begitu tahu kelakuanku yang
menyebabkan wajahmu menjadi jelek seketika itu.
Kumohon, semua kebodohan yang kuucupkan,
lupakanlah, aku hanya ingin berbagi kebodohan itu denganmu, tidak ada maksud
apapun, itu bukan kode sayang, itu hanya bualan, dan aku tidak ingin kamu
terluka karena itu. Kamu tahu, wanita selalu egois, walau tak jarang aku
melihat laki-laki juga melakukan hal yang sama. Tapi aku wanita, yang egois,
dan menikmati keegoisan itu darimu, dan tidak mempedulikan bagaimana perasaanmu
dan sangat mengagumi saat-saat dimana kamu hanya terdiam menyembunyikan
kemarahanmu. Aku tidak mencintaimu karena ini, jelas sekali, karena aku tidak
tahu sebenarnya apa yang membuatku begitu tergila-gila padamu, tapi ini
terlihat sebagai sebuah alasan kenapa aku tidak pernah ingin kamu selangkahpun
menjauh dariku.
Mungkin aku akan terus seperti ini,
mempertahankan citraku sebagai wanita pembohong yang membicarakan kejujuran
yang bodoh, padamu. Menyiksamu dengan celotehanku yang menyakitimu, dan
seringkali tidak berguna bagimu, dan aku akan tetap tidak peduli dengan hal
itu. Aku tidak akan memintamu untuk memahamiku dalam hal ini, karena itu adalah
sesuatu yang tolol, mustahil dan kejam untuk dilakukan. Aku hanya akan memohon
keikhlasanmu untuk mengabaikan semua itu, memaafkanku dengan tulus,
mendengarkanku dengan sabar dan mencintaiku tiada henti. Sekali lagi
kuingatkan, itu bukan kode sayang, itu hanyalah bualan.
Mengiba kemurahanmu untuk selalu mencintaiku
Mengiba kemurahanmu untuk selalu mencintaiku
November,
22nd 2016
Komentar
Posting Komentar