Postingan

Menampilkan postingan dengan label short story

BUALAN

Aku adalah wanita pecinta kejujuran, meskipun tak jarang aku menemukan diriku sendiri tengah berbohong. Itulah yang selalu kujadikan alasan agar kau tak pergi dariku, meski sejengkalpun. Membelenggumu dengan berdalih kejujuran, aku membuntuti mu kemanapun kamu melangkah, bahkan terkadang ke toilet sekalipun? Sebenarnya ini bukan ideku, ini gagasanmu. Membuat kita harus salinng terbuka dan mengetahui dikoordinat berapakah di muka bumi ini kita berpijak. Sepertinya kamu menyesalinya, karena permintaanmu itu menjadi boomerang bagimu, layaknya seorang penguntit aku selalu mempertanyakan segalanya tentangmu, tak pernah berhenti, dan tak ada habisnya. Aku wanita tidak jujur yang sangat menghargai kejujuran. Sekali lagi, dengan dalih itu aku memanfaatkannya untuh nyerocos tiada henti setiap menit kepadamu. Entah kamu sungguh mendengarkan atau tidak, aku bahagia kamu hanya membiarkanku begitu. Tidak semua hal bisa kukatakan kepadamu, karena aku wanita, kamu pasti tahu, meski aku juga ta...

Guru Standar Nasional, Mutu Internasional

Menjadi guru idaman mungkin bukan hal yang sukar. Apalagi bila menjadi guru bidang studi, jam mengajarnya tentu berhamburan di berbagai kelas. Tidak perlu terlalu menonjol untuk bisa dikenal oleh siswa. Banyaknya jam tatap muka, dan etika untuk menyapa guru di setiap tempat bahkan di luar sekolah sudah menjadi jaminan ketenaran seorang guru di mata murid-muridnya. Semua guru pasti dikenal murid-muridnya, hanya saja dengan titel yang beragam. Guru pendiam bertitel sabar. Guru ceria bertitel cerewet. Dan guru yang suka membuka lebar-lebar matanya bertitel galak. Mereka adalah kaum selebriti kalangan pelajar. Berbeda dengan guru yang bisa langsung populer tanpa promosi dan kampanye, murid memiliki sejuta tantangan hanya untuk sekedar diketahui namanya oleh guru. Ini bukan salah guru yang tidak mengenali semua muridnya. Banyaknya murid yang diajar mengakibatkan guru tidak dapat mengahafal semua nama anak didiknya. Bila mau, guru itu bisa saja mengahafal, tapi tentu saja terlalu banyak...

Mengobrak-abrik Kantin juga Belajar

Semula berawal dari keinginanku untuk mengabdikan diri. Entah darimana asalnya, rasa yang mengetuk-ngetuk kuat di dalam hati ini. Mungkin  semenjak aku menempuh mata kuliah praktik atau lama bercongkol saat pertama kali aku menginjakkan kaki di bangku kuliah atau bisa jadi karena kekawatiran untuk membuktikan diri sebagai calon pendidik. Aku tak tahu yang mana. Yang jelas sebagai mahasiswi pendidikan dasar tingkat akhir aku selalu mengidam-idamkan memiliki anak didik yang lucu. Membayangkan memiliki teman kecil seperjuangan yang lucu, teman yang selalu tidak bisa diam dan selalu penasaran itu, rasanya amat manis. Lama aku menunggu saat seperti ini datang. Awalnya aku bingung, mau mencari anak didik dengan cara apa? Membantu mengajar di sekolahan? Jelas tidak mungkin, aku belum lulus pendidikan, dan tinggal di kota besar seperti ini? Jangan harap ada durian runtuh mendadak kalau tak punya koneksi yang kuat. Sore itu seperti biasa aku berkunjung ke kos salah satu teman, sekeda...

Mimpi Gadis dalam Tong Sampah

Sayup Adzan subuh terdengar merdu dari Langgar sebelah kost membangunkan Siti dari mimpi indahnya. Mimpi indah yang selama ini menghampiri tiap malam-malamnya. Mimpi mendapatkan beberapa lembar uang. Mimpi mengirimkan uang pada Mak nya di kampung. Mimpi hidup dalam kecukupan. Mimpi yang selalu kabur saat adzan subuh berkumandang. Bergegas Siti mengambil air wudhlu, membasuh sisa-sisa mimpinya, menyadarkannya pada dunia yang menantang kepadanya. Dunia yang tersenyum meremehkan kelemahannya, mementahkan semua usaha dan kegigihannya. Dunia yang ingin Ia taklukkan dengan tangan mungilnya. Bermodalkan tekad dan ijazah SMP, Siti mengadu untung merantau ke kota. Ia berharap dapat menyekolahkan adik-adiknya. Ia berharap dapat mengobatkan Mamaknya dan Ia berharap dapat membuat Bapaknya tersenyum di surga. Siti, dengan ijazah yang dengan sudah payah Ia dapatkan di desa. Ijazah tertinggi yang dapat dimiliki orang-orang kampung macam  dia, Siti bertekad akan memperbaiki nasib yang kuran...