Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

MENUNGGU PAGI

Aku membencimu seperti malam Aku membenci sunyi malam yang seolah tiada berakhir Aku mengutuk malam yang sunyi dan lengang Karena kesunyian hanya membawa ingatanku padamu Aku meraung dalam dekapan kegelapan Tiada yang datang menolongku Pun tiada yang tahu Dadaku tercabik kala malam menyelimuti bumi Aku menjerit dalam diam Meratap dalam kesendirian Entah sudah berapa banyak air mata tumpah malam ini Aku tak pernah tau malam begitu menyakitkan Kau yang mengabarkannya padaku lewat kepergianmu Dan aku masih bertahan, berharap pagi masih menyapaku 28 Maret 2017

BUALAN

Aku adalah wanita pecinta kejujuran, meskipun tak jarang aku menemukan diriku sendiri tengah berbohong. Itulah yang selalu kujadikan alasan agar kau tak pergi dariku, meski sejengkalpun. Membelenggumu dengan berdalih kejujuran, aku membuntuti mu kemanapun kamu melangkah, bahkan terkadang ke toilet sekalipun? Sebenarnya ini bukan ideku, ini gagasanmu. Membuat kita harus salinng terbuka dan mengetahui dikoordinat berapakah di muka bumi ini kita berpijak. Sepertinya kamu menyesalinya, karena permintaanmu itu menjadi boomerang bagimu, layaknya seorang penguntit aku selalu mempertanyakan segalanya tentangmu, tak pernah berhenti, dan tak ada habisnya. Aku wanita tidak jujur yang sangat menghargai kejujuran. Sekali lagi, dengan dalih itu aku memanfaatkannya untuh nyerocos tiada henti setiap menit kepadamu. Entah kamu sungguh mendengarkan atau tidak, aku bahagia kamu hanya membiarkanku begitu. Tidak semua hal bisa kukatakan kepadamu, karena aku wanita, kamu pasti tahu, meski aku juga ta...

DOSA

Jadilah jantan Jika kamu laki-laki Jangan mencintai Jika jiwamu pengecut Bukankah mengombang ambingkan perempuan lemah adalah dosa?                                                                                                                                                16 September 2016
Perempuan Tak berdaya Berupaya Tapi tak kuasa Mungkin sudah garisnya Terdiam, dalam gemuruh Dipaksa tersenyum, dalam raungan Lemah, Jangankan menyahut Dia bahkan tak mampu berbicara Ya sudahlah Mungkin sudah garisnya                                                                         16 September 2016

LUPA

Ketika aku berhenti mendoakan mu Dan kerinduan tak menghampiriku Saat kamu tenggelam dalam duniamu Seakan terlupa bahagia bersama Tak ingat masa-masa menantikanmu Mungkin karena kau tak memintaku menunggu Membuatku bosan berpaku padamu                                                                         Hujan deras di lantai atas                                                ...

Guru Standar Nasional, Mutu Internasional

Menjadi guru idaman mungkin bukan hal yang sukar. Apalagi bila menjadi guru bidang studi, jam mengajarnya tentu berhamburan di berbagai kelas. Tidak perlu terlalu menonjol untuk bisa dikenal oleh siswa. Banyaknya jam tatap muka, dan etika untuk menyapa guru di setiap tempat bahkan di luar sekolah sudah menjadi jaminan ketenaran seorang guru di mata murid-muridnya. Semua guru pasti dikenal murid-muridnya, hanya saja dengan titel yang beragam. Guru pendiam bertitel sabar. Guru ceria bertitel cerewet. Dan guru yang suka membuka lebar-lebar matanya bertitel galak. Mereka adalah kaum selebriti kalangan pelajar. Berbeda dengan guru yang bisa langsung populer tanpa promosi dan kampanye, murid memiliki sejuta tantangan hanya untuk sekedar diketahui namanya oleh guru. Ini bukan salah guru yang tidak mengenali semua muridnya. Banyaknya murid yang diajar mengakibatkan guru tidak dapat mengahafal semua nama anak didiknya. Bila mau, guru itu bisa saja mengahafal, tapi tentu saja terlalu banyak...

Mengobrak-abrik Kantin juga Belajar

Semula berawal dari keinginanku untuk mengabdikan diri. Entah darimana asalnya, rasa yang mengetuk-ngetuk kuat di dalam hati ini. Mungkin  semenjak aku menempuh mata kuliah praktik atau lama bercongkol saat pertama kali aku menginjakkan kaki di bangku kuliah atau bisa jadi karena kekawatiran untuk membuktikan diri sebagai calon pendidik. Aku tak tahu yang mana. Yang jelas sebagai mahasiswi pendidikan dasar tingkat akhir aku selalu mengidam-idamkan memiliki anak didik yang lucu. Membayangkan memiliki teman kecil seperjuangan yang lucu, teman yang selalu tidak bisa diam dan selalu penasaran itu, rasanya amat manis. Lama aku menunggu saat seperti ini datang. Awalnya aku bingung, mau mencari anak didik dengan cara apa? Membantu mengajar di sekolahan? Jelas tidak mungkin, aku belum lulus pendidikan, dan tinggal di kota besar seperti ini? Jangan harap ada durian runtuh mendadak kalau tak punya koneksi yang kuat. Sore itu seperti biasa aku berkunjung ke kos salah satu teman, sekeda...

Kita Mampu Menggoncang Dunia

Nasionalisme, kebangsaan, adalah kepedulian pada kaum sendiri. Mahasiswa tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai golongan yang keras menyuarakan pendapat, tajam menilai kebijakan dan mampu membawa sebuah perubahan. Sebagaimana kita melihat mahasiswa mampu merobohkan kokohnya pemerintahan Soeharto yang otoriter, kita bisa merasakan bagaimana kekuatan mahasiswa mampu membawa sebuah negara berubah 180°, dengan jiwa nasionalismenya. Mahasiswa adalah jiwa muda yang peduli dengan bangsanya. Disaat para profesional sibuk mementingkan perutnya sendiri, ditengah kebutaan rakyat kecil yang tertindas, mahasiswa adalah angin segar dan penyeimbang dalam sebuah pemerintahan yang sewenang-wenang. Mahasiswa harus memiliki semangat dan empati untuk menilai, mengkritisi, memberikan sumbangsih dalam setiap kebijakan yang akan ditetapkan oleh pemerintah. Demonstrasi bukan jalan pertama dan utama dalam menyuarakan pendapat. Mahasiswa bukan hanya sekumpulan masa yang memakai jas almamater dan bert...

Mimpi Gadis dalam Tong Sampah

Sayup Adzan subuh terdengar merdu dari Langgar sebelah kost membangunkan Siti dari mimpi indahnya. Mimpi indah yang selama ini menghampiri tiap malam-malamnya. Mimpi mendapatkan beberapa lembar uang. Mimpi mengirimkan uang pada Mak nya di kampung. Mimpi hidup dalam kecukupan. Mimpi yang selalu kabur saat adzan subuh berkumandang. Bergegas Siti mengambil air wudhlu, membasuh sisa-sisa mimpinya, menyadarkannya pada dunia yang menantang kepadanya. Dunia yang tersenyum meremehkan kelemahannya, mementahkan semua usaha dan kegigihannya. Dunia yang ingin Ia taklukkan dengan tangan mungilnya. Bermodalkan tekad dan ijazah SMP, Siti mengadu untung merantau ke kota. Ia berharap dapat menyekolahkan adik-adiknya. Ia berharap dapat mengobatkan Mamaknya dan Ia berharap dapat membuat Bapaknya tersenyum di surga. Siti, dengan ijazah yang dengan sudah payah Ia dapatkan di desa. Ijazah tertinggi yang dapat dimiliki orang-orang kampung macam  dia, Siti bertekad akan memperbaiki nasib yang kuran...