Guru Standar Nasional, Mutu Internasional
Menjadi guru idaman mungkin
bukan hal yang sukar. Apalagi bila menjadi guru bidang studi, jam mengajarnya
tentu berhamburan di berbagai kelas. Tidak perlu terlalu menonjol untuk bisa
dikenal oleh siswa. Banyaknya jam tatap muka, dan etika untuk menyapa guru di
setiap tempat bahkan di luar sekolah sudah menjadi jaminan ketenaran seorang
guru di mata murid-muridnya. Semua guru pasti dikenal murid-muridnya, hanya
saja dengan titel yang beragam. Guru pendiam bertitel sabar. Guru ceria
bertitel cerewet. Dan guru yang suka membuka lebar-lebar matanya bertitel
galak. Mereka adalah kaum selebriti kalangan pelajar.
Berbeda dengan guru yang bisa
langsung populer tanpa promosi dan kampanye, murid memiliki sejuta tantangan
hanya untuk sekedar diketahui namanya oleh guru. Ini bukan salah guru yang
tidak mengenali semua muridnya. Banyaknya murid yang diajar mengakibatkan guru
tidak dapat mengahafal semua nama anak didiknya. Bila mau, guru itu bisa saja
mengahafal, tapi tentu saja terlalu banyak waktu yang sia-sia. Belakangan saya
tahu bahwa tugas guru banyak sekali,
menyiapkan perangkat pembelajaran yang ruwetnya amit-amit. Membuat media,
membuat bahan ajar, menyiapkan strategi mengajar yang harus berganti-ganti
sesuai materi yang diajarkan, belum urusan administrasi tetek bengek yang tetap
harus dikerjakan. Nah, kalau sudah begitu buat apa repot-repot menghafalkan
nama murid?
Ada cara jitu yang sudah
digunakan guru bertahun-tahun. Dari tahun gajah sampai tahun gadget. Bukan
rahasia lagi hal ini. Saya tahu belakangan dari cerita Ibu, kebetulan Ibu saya
juga seorang guru SD yang sangat favorit dikalangan muridnya karena
kejenakaannya. Guru hanya mengingat muridnya (dengan garis bawah) yang sangat
pandai, yang sangat tidak pandai dan yang sangat nakal. Bisa ditebak, bila
tidak tercantum dalam daftar murid ‘yang sangat’ tentu guru tidak akan menganal
anak tersebut. Guru hanya akan sekilas mengetahui bahwa Ia pernah mengajar anak
bernama ‘tidak dengan sangat’ tersebut.
Alotnya persaingan dalam
kancah dunia persiswaan tersebut menghasilkan berbagai macam gaya murid.
Sebagai makhluk dalam tahap perkembangan yang ingin membuktikan eksistensinya,
murid punya berbagai ragam akal untuk menarik perhatian gurunya. Ada murid yang
kerjaannya bolos, biar bisa ketemu bapak kantib muda yang galak dan ganteng.
Ada murid yang kerjaannya sakit perut, biar bisa ketemu Ibu penjaga UKS yang
baik hati. Ada anak yang kerjaannya memelototi buku, biar bisa menjawab semua
soal yang diberikan Bapak guru ganteng yang pandai. Semakin kreatif murid,
semakin tenar dia. Murid yang diam saja dipojokan bahkan adalah murid yang
tergolong kreatif, buktinya namanya tenar, sampai dihafal Bapak Ibu guru. Begitulah
beratnya persaingan dalam dunia selebriti persiswaan.
Sejak kecil saya mendambakan
masuk dalam list ‘yang sangat’ itu. Dalam setiap kesempatan saya selalu
berusaha semaksimal mungkin unjuk gigi. Hanya saja karena saya bukan siswa yang
tanpa minder, saya selalu menutup kemungkinan untuk tanpil di muka kelas
(mungkin itu kesalahan terbesarnya). Saya aktif di olahraga, ekstrakulikuler
dan dalam bidang akademik dibalik kertas (tidak menonjolkan diri secara
langsung). Saya juga sering ikut berbagai perlombaan, baik akademik maupun non
akademik. Dengan rentetan usaha yang telah saya lakukan, saya sudah tenar di
kalangan guru, seharusnya. Nyatanya? Nama saya tetap tidak tercantum dalam list
‘yang paling’, andaikan saya ada dalam list tersebut mungkin gelarnya adalah
‘yang paling biasa saja’. Tidak heran, sebab meskipun saya aktif dalam berbagai
bidang, saya hanya pelaku kacangan, orang cilikan dalam bidang yang saya ikuti.
Akhirnya saya tahu, menggeluti banyak bidang tidak lebih baik daripada menekuni
satu bidang dengan serius.
Persaingan semakin ketat saat
memasuki dunia SMA. Dunia kejayaan siswa yang biasanya akan dikenang sampai
kakek nenek. Yang akan diceritakan dengan bangga bahkan kepada teman-teman satu
perguruan tingginya sekalipun. Disinilah puncak kegilaan siswa remaja dalam
memperoleh pengakuan atas keberadaan dirinya. Banyak siswa yang kecanduan.
Kecanduan alkohol. Kecanduan narkotika. Kecanduan belajar. Kecanduan bimbingan
belajar. Kecanduan ikut olimpiade. Dan kecanduan ketenaran merebak dimana-mana.
Dari sekian banyak kecanduan yang ditawarkan, saya hanya memilih kecanduan
mendengarkan radio. Itu adalah salah satu bentuk kecanduan milik siswa dengan
titel ‘yang sudah menyerah menjadi selebriti sekolah’.
Dengan tekad bulat (bahwa saya
sudah lelah mengejar ketenaran lagi), saya memutuskan untuk berjalan biasa
saja, belajar biasa saja, dan menyimak pembelajaran biasa saja. Walhasil, saya
dikagetkan dengan guru yang mengajarnya biasa saja. Duduk, menyilangkan kaki,
mengoceh. Penampilan guru ini sangat biasa. Rok panjang, kerudung lebar, rapi.
Cantik orangnya, sudah tidak muda lagi, sangat pemilih. Hanya yang cantik dan
yang pintar yang akan dikenalnya, standar guru sekali. Setiap pertemuan hanya
membahas buku panduan yang sudah dibeli siswa. Tidak ada praktikum
menyenangkan. Tidak ada game seru. Tidak ada perubahan gaya mengajar. Itulah
gaya mengajar guru standar nasional Indonesia zaman itu.
Banyak sekali guru yang
mengajar dengan gaya seperti itu, bahkan ada guru yang lebih baik (secara teori),
sebab Ia mengontrol kelas lansung, tidak hanya ongkang-ongkang di kursi. Namun
anehnya, bukannya merasa bosan dengan kelasnya, saya justru merasa betah
berlama-lama dengan guru yang sangat standar tersebut. Pelajarannya sangat
sulit, biologi IPA kelas XI SMA. Materinya sangat banyak. Penjelasannya sangat
njlimet. Bahkan kami belajar tentang sesuatu yang belum pernah kita lihat.
Tentu tidak mudah mempelajari dan mempercayai pelajaran seperti itu. Berbekal
transparansi hitam putih beliau mengenalkan kami pada dunia yang tidak pernah
saya lihat sebelumnya. Sel, Organ dan bangsa sejenis yang jarang kami temui
beliau ajarkan dengan tuntas.
Sulit dipercaya, saya menjadi
sangat mengagumi guru satu ini. Gayanya yang santai dan hanya ongkang-oangkang
saja sudah tidak saya remehkan lagi, sebab dengan pose nya itu beliau mampu
mengendalikan kelas tanpa kesulitan sama sekali. Saya semakin kagum melihat
bagaimana hanya dengan berbicara santai di atas kursi, beliau mampu
membangkitkan semangat belajar dan keingintahuan siswa terhadap materi yang
dibawakannya. Mungkin ini yang dinamakan kharisma seorang guru, tapi saya tidak
peduli. Saat itu yang saya pedulikan adalah, saya suka sekali membolak-balik
halaman buku pegangan saya sampai kumal. Yang saya pedulikan adalah saya dapat
mengangguk-angguk mengerti, mengiyakan pelajaran yang disampaikan beliau
keesokan harinya. Yang saya pedulikan adalah saya dapat menjawab dalam hati
pertanyaan berhadiah yang beliau berikan (beliau sangat senang memberikan
pertanyaan yang mempergunakan logika terkait materi, siswa yang menjawab dengan
benar akan mendapatkan uang senilai Rp. 1000,00). Yang saya pedulikan adalah
saya dapat membayangkan bentuk makhluk-makhluk kecil imut yang sangat ajaib
yang ada dalam pelajaran beliau.
Kecanduan saya bertambah sejak
belajar bersama beliau. Sekarang sambil mendengarkan radio, saya sering
membaca-baca buku panduan biologi yang sudah saya beli, bukan hanya yang wajib,
yang sunah sekalipun saya senang membacanya. Setiap kesempatan beliau
mengajukan pertanyaan adalah kesempatan yang sangat saya nanti-nanti. Tentu
saja bukan karena hadiah uangnya yang saya nantikan. Sebab pemalu, saya selalu
memjawab dengan lirih, atau menjawab dalam hati. Bila jawaban saya ternyata
benar, saya hanya mampu tersenyum lebar. Tidak ada yang tahu saya bisa
menjawabnya. Tidak ada bukti saya bisa menjawabnya. Saya hanya senang bisa
mengetahui jawabannya.
Karena saya senang dengan
pelajaran yang disampaikan beliau, nilai-nilai yang nonggol pun tidak terlalu
jelek, tapi tetap saja saya kalah dari siswa yang sangat pandai. Dan kebetulan
di kelas saya ada banyak sekali siswa ‘yang sangat pandai’ yang mengidap
kecanduan belajar dan kecanduan bimbingan belajar, lengkap sudah. Tidak ada
ampun lagi, saya tersisihkan lagi, pada babak penentuan nilai akhir.
Dengan tersisihkannya babak
perolehan nilai akhir, ditambah kecanduan menjawab dalam hati, tidak diragukan
lagi, nama saya tidak pernah nangkring dalam ingatan beliau. Sampai saya lulus,
tidak pernah sekalipun beliau menyebutkan nama saya. Sampai saya lulus, gelar
selebriti sekolah tetap tidak menghampiri saya. Mungkin usaha saya kurang.
Mungkin kemampuan saya kurang. Mungkin keberuntungan saya kurang. Yang jelas,
kebahagiaan saya tidak kurang. Meski tak sepatah katapun beliau mengucap
namaku, tetap saja saya ingin belajar karena beliau. Karena beliau adalah guru
standar nasional dengan mutu internasional.
Surabaya, 18 Maret
2014
13:38
Komentar
Posting Komentar