Mengobrak-abrik Kantin juga Belajar
Semula berawal dari keinginanku
untuk mengabdikan diri. Entah darimana asalnya, rasa yang mengetuk-ngetuk kuat
di dalam hati ini. Mungkin semenjak aku
menempuh mata kuliah praktik atau lama bercongkol saat pertama kali aku
menginjakkan kaki di bangku kuliah atau bisa jadi karena kekawatiran untuk membuktikan
diri sebagai calon pendidik. Aku tak tahu yang mana. Yang jelas sebagai
mahasiswi pendidikan dasar tingkat akhir aku selalu mengidam-idamkan memiliki
anak didik yang lucu. Membayangkan memiliki teman kecil seperjuangan yang lucu,
teman yang selalu tidak bisa diam dan selalu penasaran itu, rasanya amat manis.
Lama aku menunggu saat seperti
ini datang. Awalnya aku bingung, mau mencari anak didik dengan cara apa?
Membantu mengajar di sekolahan? Jelas tidak mungkin, aku belum lulus
pendidikan, dan tinggal di kota besar seperti ini? Jangan harap ada durian
runtuh mendadak kalau tak punya koneksi yang kuat. Sore itu seperti biasa aku
berkunjung ke kos salah satu teman, sekedar menghabiskan waktu, atau
kadang-kadang menghabiskan tugas-tugas yang menumpuk selama beberapa hari. Tiba-tiba
salah satu temanku mendekat, menyodorkan selembar kertas, berisi sederet angka.
“Apa ini?” tanyaku tak acuh sambil asik memainkan game di laptopku. “Aku ada
anak didik sewaktu program praktik lapangan”, “Dia mau tanda tanganku?” tanyaku
asal, memang aku terkenal sebagai anak yang suka slengehan, suka guyon dengan
siapa saja. “Dia sudah nggak mau tanda tangan artis kebun binatang” timpal
temanku meladeni guyonanku. “ So?” “Dia perlu guru les privat, kamu mau?”.
Tanpa menunggu menit ke dua, aku langsung meletakkan laptopku dan mulai
memungut kertas yang tadi diberikan temanku. “Ini nomor telephonnya?”, temanku
menggangguk mengiyakan pertanyaanku barusan.
Dengan rasa ingin mencoba dan
rasa ingin tahuku yang tinggi sebagai calon guru muda, aku memutuskan untuk
menghubungi Dita, anak yang membutuhkan bimbingan guru privat tadi, langsung,
saat itu juga. Beberapa menit kemudian baru aku mulai merasakan getaran-getaran
aneh dalam hati. Aku cemas. Bimbang. Bingung. Mulai terpikir olehku untuk
menanyakan informasi seputar Dita. Aku waswas, seandainya Ia bukan tipe siswa
yang dapat kutangani. Ternyata Dita adalah seorang siswi kelas 6 SD, akhirnya
hanya informasi itulah yang dapat kuperoleh dari temanku.
Malamnya aku menghubungi
kembali nomor yang diberikan temanku tadi. Telephonku tak diangkat, sms
berkali-kali pun tak dijawab, ahirnya dengan rasa gelisah aku berangkat mencari
rumah Dita. Aku takut, takut tidak professional dalam mengajar, takut bekalku
tidak cukup untuk mengajari Dita, takut Dita tidak akan menyukaiku dan
takut-takut yang lain. Sepanjang jalan aku berdoa, aku mulai menenangkan diri,
membisikkan motivasi dan menciptakan energi-energi positif untuk menghilangkan
kekawatiranku pada hari pertama mengajar. Maklum, banyak teman-teman guru les
pemula yang akan memilih untuk menghindari debutnya bersama anak yang akan
menempuh ujian akhir sekolah, takut anak didiknya gagal, katanya.
Mengabaikan segala prasangka-prasangka negatif
yang datang, aku mulai memfokuskan diri mencari alamat yang diberikan oleh
Ibunya Dita. Dalam sms beliau hanya menuliskan di SMP 168 mbak, titik. Pikirku,
jika aku berangkat saja maka aku bisa bertanya pada orang-orang di sekitar SMP.
Aku mulai tenang sampai kulihat papan nama SMP yang dimaksud Ibu Dita, kutengok
kanan kiri, makin masuk ke dalam, makin gelap dan sepi benar suasa di daerah
situ. Aku mulai ragu. Dalam hati tak henti kubacakan doa, maklum akhir-akhir
ini ada banyak berita kriminal yang menyeramkan, tak ketinggalan berita
pemerkosaan yang paling ditakuti kaum hawa.
Lama aku bertakut-takut ria
dalam gelap, takut pula aku dikira maling mengendap-ngendap dalam kegelapan.
Akhirnya, aku melihat secercah nyala lampu diantara gelapnya halaman sekolah,
aku bersyukur dalam hati, ada beberapa laki-laki paro baya di sana. Aku senang
melihat ada orang yang bisa dimintai tolong, sekedar bertanya alamat rumah
Dita, namun agak seram juga melihat semua orang di depanku adalah laki-laki,
berbagai berita pemerkosaan muncul bersliweran dalam benakku, dengan
memberanikan diri aku mulai berhenti di depan bapak-bapak itu. “Mohon maaf pak,
numpang tanya apa di sekitar sini ada perkampungan atau perumahan?” aku pikir
Ibu Dita menyebutkan SMP 168 sebagai ancer-ancer yang mudah dicari, yang paling
dekat dengan rumahnya, namun malam itu aku tidak bisa melihat adanya
perkampungan di dekat SMP itu. “Ada perumahan mbak, tapi di belakang situ,
tidak bisa lewat sini, lewat gerbang depan sana” Bapak-bapak itu jauh menunjuk
arah timur, memang benar terlihat ada perumahan, namun ada tembok tinggi
menjulang memisahkan perumahan megah itu dengan sekolahan. “Owh, kalau dekat
sini ada rumah warga apa tidak nggeh pak?” Logat jawa tengahku muncul, logat
medok yang banyak ditertawakan teman-teman saat awal kuliah. Memang aku anak
jawa timur tulen, tetapi logatku, adatku, bahasaku lebih mirip orang jawa
tengah. Maklum rumahku berada di perbatasan jawa tengah, jauh dipesisir
selatan, yang bahkan orang jawa timur saja tidak tahu nama kotaku. Pacitan, ya
kota kecil itu, yang tak banyak dikenal orang, meskipun presiden kami berasal
dari kota kecilku ini, tapi kota kami seolah tenggelam dibelantara. “Saya
mencari rumah Dita Bapak, anak kelas VI SD” “Owh Dita…., itu anak saya mbak”
tiba-tiba seorang Ibu muncul begitu saja di tengah-tengah kami, baru
aku sadar beberapa saat kemudian kalau tempat Bapak-bapak nongkrong tadi adalah
sebuah kantin, dan Ibu-ibu yang baru saja muncul tadi adalah si empunya kantin.
Malam pertama aku mengajar,
aku agak gugup, bingung mau memulai bagaimana. Muridku pendiam sekali malam
ini, Ia memintaku untuk mengajarkan matematika, aku menuruti apa maunya. Bangun
datar. Aku mulai mengajarkan rumus luas bangun datar, Ia tampak menurut, namun
tampaknya belum sepenuhnya Ia memahami materi yang kusampaikan, dan sedihnya
lagi Ia seolah tak mau memahaminya. Karena matematika bukan hanya soal rumus,
aku memutuskan untuk langsung memberikan Dita soal-soal latiham, agar rumus
yang kuajarkan tadi dapat segera diimplementasikan dalam dunia yang sebenarnya.
Persegi mudah, jajar genjang lewat, sampai pada layang-layang, hampir 30 menit
aku berusaha menjelaskan dalam istilah yang sesederhana mungkin. Tak juga dia
paham. Aku minta dia menggambar layang-layang lengkap dengan diagonalnya, tetap
tak bisa Ia cerna. Jurus akhir, aku menanyakan barangkali Ia memiliki
layang-layang, hasilnya nihil, Ia tetap tidak bisa menggunakan rumus yang sudah
ditulisnya besar-besar untuk mencari luasnya. Aku mulai hilang akal, menurut
teori yang diajarkan di kampus, anak didik akan mudah mempelajari materi dengan
disuguhkan benda nyata. Dalam matematika, teknik ini disebut sebagai matematika
realistik. Aku mulai menghela nafas panjang, bagaimana bisa anak kelas VI SD, di
kota sebesar Surabaya, kesulitan dalam mencari berapa panjang diagonal, yang
hanya tinggal menjumlahkan sisi kanan dan sisi kirinya saja? OMG…..
Beberapa kali mengajar, Dita
makin lengket denganku, Ia sudah mulai cerewet membicarakan banyak hal. Ia suka
sekali memuji aku cantik, baik dan lemah lembut, aku tidak lantas membiarkan
dia bermalas-malasan belajar hanya gara-gara dipuji gadis cilik ini. Kadang aku
jengkel dengan sikapnya yang manja, malas dan cerewet, Ia enggan belajar
sesuatu yang dianggapnya sulit, dan akan mulai nggambek bila tidak kuturuti apa
maunya. Pernah suatu saat dia menangis, gara-gara Handphonenya kusita. Anak
usia SD di kota besar, sudah wajar bermain-main Handphone, sayangnya wajar pula
bila urusan pendidikannya hanya diserahkan pada sekolah dan guru lesnya yang
hanya bisa mengajar beberapa jam saja, itupun hanya sekedar membantu
mengerjakan PR yang diberikan di sekolah. Sudah untung bila Dita mendapatkan
tambahan les dirumah, meskipun di kota, banyak orang tua yang hanya
mengandalkan sekolah sebagai tempat pendidikan anaknya, di rumah, tentu saja
mereka tidak peduli anaknya mau apa. Dukungan orang tua yang minim terhadap
pendidikan anak ini ternyata tidak hanya bisa kita jumpai pada cerita-cerita
pengajar muda kita di pelosok negeri seperti kisah dalam buku Indonesia
Mengajar, namun banyak juga yang kita saksikan di kota besar sekalipun.
Meskipun hanya sebagai guru
les berbagai metode telah kuterapkan, mulai dari tebak kata sampai simulasi
presenter sudah pernah aku coba. Aku paham benar tabiat anak didikku satu ini,
sama seperti anak-anak pada umumnya, Ia hanya mau belajar saat suasana hatinya
baik, dan suasana hatinya baik bila pembelajaran yang disampaikan menarik, dan
pelajarannya dikatakan menarik bila aku menuruti apa maunya. Susah susah
menyenangkan memang belajar bersama Dita, meski aku harus kecewa karena sampai
saat ini Ia memandang belajar bersamaku hanya untuk menuntaskan PR yang
diberikan gurunya di sekolah, mungkin Ia malu mendapatkan nilai jelek bila
tidak ada guru les yang membantu.
Aku sering berpikir keras
untuk membuat Dita menyadari betapa penting dan menyenangkannya belajar, aku
ingin membuat Dita menyadari bahwa belajar bukan hanya untuk membereskan PR
nya, yang bila tidak dikerjakan akan berbuah hukuman dari sang guru. Aku senang
membuat Dita sibuk berlari-lari mengitari sekolahan untuk menggolongkan
tumbuhan berkambium atau tidak, sibuk mengobrak abrik kantin tempat kami les
demi menggolongkan benda-benda berdasarkan bahannya. Aku senang melihat Dita
yang sepserti itu, menggebu-nggebu mencari sesuatu yang belum Ia tahu, yang
menyenangkan baginya. Meskipun demikian, Dita masih tetap Dita yang manja, yang
maunya pekerjaan rumahnya selesai tanpa mau tahu bagaimana cara mengerjakannya.
Sedih terkadang, namun aku lega Dia sudah mulai terbiasa berdoa sekarang,
setidaknya sebelum dan sesudah belajar. Meskipun sepele, ini adalah kegiatan
yang sukar untuk dilakukan tanpa pembiasaan, apalagi mengingat keluarganya
kurang begitu mempedulikan tuntunan agama.
Akhirnya, sampai ujung
pertemuan kami, aku merasa belum dapat melakukan apa-apa untuk Dita. Entah apa
itu arti kata inspirasi, yang jelas aku senang saat menerima surat perpisahan
dari Dita, Ia menyampaikan tanda terimakasih dan permohonan maaf untuk
tingkahlaku manjanya selama ini. Dengan kata-kata yang polos, Ia merasa sangat
kehilangan aku, Ia berjanji akan belajar lebih giat. Tak banyak yang berubah
dari seorang Dita, dari kehadiranku sebagai guru les privatnya, namun aku tetap
bersyukur, Dita mungilku sudah mulai mengenal nilai-nilai luhur yang lebih
penting dari PR-PR nya, semoga saja Ia juga mulai menyadari bahwa sekedar
mengobrak-abrik kantin mencari benda yang terbuat dari plastik juga dinamakan
belajar, agar Ia sadar bahwa belajar itu tidak membosankan dan belajar dapat
dilakukan di mana saja, kapan saja.
Surabaya, 2 Maret
2014
21:55
Komentar
Posting Komentar