Kita Mampu Menggoncang Dunia



Nasionalisme, kebangsaan, adalah kepedulian pada kaum sendiri. Mahasiswa tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai golongan yang keras menyuarakan pendapat, tajam menilai kebijakan dan mampu membawa sebuah perubahan. Sebagaimana kita melihat mahasiswa mampu merobohkan kokohnya pemerintahan Soeharto yang otoriter, kita bisa merasakan bagaimana kekuatan mahasiswa mampu membawa sebuah negara berubah 180°, dengan jiwa nasionalismenya.
Mahasiswa adalah jiwa muda yang peduli dengan bangsanya. Disaat para profesional sibuk mementingkan perutnya sendiri, ditengah kebutaan rakyat kecil yang tertindas, mahasiswa adalah angin segar dan penyeimbang dalam sebuah pemerintahan yang sewenang-wenang. Mahasiswa harus memiliki semangat dan empati untuk menilai, mengkritisi, memberikan sumbangsih dalam setiap kebijakan yang akan ditetapkan oleh pemerintah.
Demonstrasi bukan jalan pertama dan utama dalam menyuarakan pendapat. Mahasiswa bukan hanya sekumpulan masa yang memakai jas almamater dan berteriak-teriak di jalanan menyumpahi kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Banyak jalan menuju roma, begitupun seharusnya perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk mendedikasikan dirinya membangun bangsa yang besar, negara yang disegani.
Segala sesuatu itu berawal dari tiada. Sesuatu yang besar, bermula dari sebuah titik yang kecil. Mahasiswa bukan seorang yang memiliki wibawa besar, kedudukan  tinggi yang dengan serta merta mampu merubah sebuah bangsa dalam sekejab mata. Mahasiswa dalam nasionalismenya cukup melakukan tindakan-tindakan kecil yang mulia namun terealisasi, bukan janji-janji besar yang muluk-muluk. Bila dikatakan seorang politisi disegani karena lidahnya, dan seorang dokter bedah disegani karena pisaunya, maka pisau mahasiswa adalah melalui karya-karyanya.
Bergeraklah sesuai bidang, minat dan bakatmu, walaupun itu hanyalah satu bidang saja, jika kalian menekuninya maka kalian dapat menggoncangkan dunia. Mahasiswa sastra dapat memamerkan jiwa sastranya untuk menkritisi kebijakan di negara ini. Sujiwo tejo misalnya, dengan kecintaannya pada seni mampu menggerakkan masyarakat, membukakan mata masyarakat untuk melihat  Indonesia, melihat fenomena perpolitikan, kebijakan yang dikemas secara menarik dalam pertunjukkan pewayangannya. Mahasiswa yang memiliki minat dan simpati pada pendidikan Indonesia bisa mengabdikan dirinya dengan ikut mendidik putra-putri bangsa. Selayaknya Anis Baswedan yang notabene bukan orang yang mendalami dunia pendidikan, namun ia tergerak untuk ikut membenahi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Banyak bidang lain yang bisa digunakan untuk mengaktualisasikan kecintaan kita pada negara ini. Kunci utamanya hanyalah, pasang lebar-lebat mata, telinga dan hati kita untuk melihat jeritan dan tangisan saudara sebangsa, asah kemampuan kita untuk bersama menolong saudara-saudara kita, dan ulurkan tangan kita mulai saat ini juga. Selamat bergerak kawan!

                                                                  Kampus ketintang UNESA
                                                                  12 November 2015
                                                                  Vit Ardhyantama


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUALAN

DOSA