Dianggap Tabu untuk Dibicarakan, Namun Penting untuk Diperhatikan


 

Di dalam masyarakat kita yang sudah sebegini modern, masih ada topik-topik pembicaraan yang dianggap tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan, misalnya: sex education, salary, atau kematian. Nah lo, pasti ada beberapa diantara kalian yang langsung merasa aneh melihat kata “kematian” muncul disini. Sekalipun “mati” adalah sebuah kepastian, namun memperbincangkannya adalah sebuah hal yang dianggap tidak perlu.

Sebagai orang yang lumayan sering menyinggung masalah “mati” dibanding orang pada umumnya, terkadang saya mendapat respon negatif, dianggap aneh, mencurigakan, bahkan dinilai sebagai manusia toxic. Sebenarnya penting nggak sih kita mengingat mati atau berperilaku seolah-olah ajal sudah dekat itu? Yuk kita bahas plus minusnya!

Dari pengalaman saya, berperilaku seolah-olah kematian sudah dekat memang menimbulkan banyak kecurigaan dan perasaan kurang nyaman bagi orang di sekitar. Mengapa demikian? Orang kebanyakan tidak terbiasa memposisikan dirinya siap mati sewaktu-waktu, mereka amat yakin bahwa jatah umurnya masih panjang, apalagi yang masih muda nih. Jadi memang terasa aneh bila orang seusia saya sudah bertingkah seolah-olah mempersiapkan kematian. Apa sih contohnya perilaku saya yang dianggap “nyeleneh” itu? Simpel sebenarnya: meminta maaf, membuat story wa dengan pesan “bagi yang merasa saya masih punya tanggungan/hutang sila japri”, atau berperilaku lebih baik dari biasanya.

Nah, mengingat kematian bagi saya kadang malah membawa banyak dampak positif, misalnya: tidak menunda hal baik, berperilaku lebih baik, lebih menghargai orang-orang di sekitar kita, menahan diri dari berbuat maksiat bahkan kadang justru menjadi lebih produktif. Ingat mati membuat saya lebih bersyukur dengan apa yang saya miliki dan benar-benar berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena sadar ada tenggat yang tidak bisa diundur kedatangannya. Di dalam Islam sendiri Rasulullah SAW memperingatkan kita untuk sering mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian (HR. Tirmidzi). Jadi clear ya, berperilaku seakan-akan kematian sudah dekat sebenarnya bukan sebuah hal yang perlu dianggap aneh.

Meskipun begitu, mengingat mati tidak boleh dimaknai menjadi hal negatif. Ingat mati tidak seharusnya membuat semangat hidup jadi loyo. “Kalau besok mati, buat apa sekarang bersusah payah, ya sudah saya rebahan saja”. Ini anggapan yang sangat keliru. Pandangan ini bisa kalian ganti dengan “bila besok saya mati, hal baik dan perubahan baik apa yang bisa saya tinggalkan?”. Saya punya quote menarik tentang ini “orang yang memiliki karya tidaklah mati, mereka abadi di dalam karyanya”. Ciamik sekali kan?

So, bila ngobrol soal mati dianggap kurang etis, setidaknya tetap siapkan dirimu untuk benar-benar bertemu dengannya ya… Berkarya sebanyak mungkin, menebarkan manfaat seluas mungkin dan menjadi baik semaksimal mungkin. Yuk!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUALAN

Kita Mampu Menggoncang Dunia

DOSA