Manusia Bertangan Seribu


Manusia normalnya dilahirkan dengan dua tangan. Bentuk ini dianggap paling ideal dan cocok dengan proporsi tubuh. Bayangkan bila manusia memiliki lebih dari sepasang tangan, bergelantungan di sisi kanan kiri tubuh melambai-lambai bergerak bebas. -Saya agak bergidik membayangkannya, teringat kaki seribu yang merayap di sudut-sudut lembab ruangan-.

Di luar kondisi normal manusia pada umumnya, umat Hindu sudah mengenal dewa-dewa yang memiliki lebih dari dua tangan, sebut saja Durga, Wisnu dan Ganesha. Tangan-tangan ini merupakan perlambangan dari kemahakuasaan mereka. Tangan menjadi simbol keberdayaan. Tangan adalah organ tubuh yang sangat mensuport produktivitas pemiliknya. Manusia memiliki ketergantungan yang sangat besar pada peran tangan. Memegang gawai, bersepeda, menulis, foto selfi, minum, mencuci, masak, dan ribuan kata kerja lainnya yang tidak bisa didaftar satu persatu.

Sekalipun secara fisik, mayoritas manusia hanya memiliki dua tangan, namun ternyata ada spesies manusia tertentu yang diberikan Tuhan kemampuan untuk “bertangan banyak”. Siapakah makhluk yang oleh Tuhan dititipkan tangan-tangan ini? Dia adalah Ibu. Perempuan yang memiliki sejuta urusan sehingga tangannya tidak pernah berhenti bekerja. Ibu harus bisa memasak, menyapu, mengepel lantai, mengendong anak, mengajak bermain, mengajari anaknya, update status, ditambah lagi dengan deretan kata kerja yang tidak ada habisnya.

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan otak laki-laki tidak memungkinkan mereka untuk menjadi multitasking, dan hal ini sangat bertolak belakang dengan struktur otak perempuan. Saya rasa ini adalah salah satu bentuk rasa kasih Tuhan pada ibu. Tuhan menciptakan perempuan untuk menjadi multitalenta. Nalurinya, otaknya, kodratnya memang dirancang untuk menjadi serba bisa dalam segala urusan dan situasi, dalam segala ritme dan tempo. Menjadi ibu berarti menjadi manusia yang diberikan kelebihan untuk dapat menghandle banyak kebutuhan di dalam genggamannya.

Saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, saya masih ingat betapa kagumya saya pada seorang ibu muda yang memiliki prinsip hidup sangat luar biasa. “Bisa melakukan apa saja dengan efektif dan efisien!” Bahkan untuk urusan sepele seperti membungkus nasi, mengupas kacang goreng, menutup klip plastik, seorang Ibu harus master dalam semua hal tersebut. Ibu adalah suhu dari segala ahli. Mengapa perlu ahli dalam segala bidang? Agar pekerjaannya menjadi lebih efektif dan efisien. Saya mempraktekkan prinsip ini sekalipun belum menjadi seorang ibu. Saat memasak, dalam benak, saya memiliki gambaran jalan mana yang lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan masakan yang lezat dalam sekejap. Berusaha untuk cekatan agar lebih banyak waktu dapat terselamatkan. Karena kebiasaan ini, kakak perempuan saya sering menggodai saya “ masaknya seperti orang marah”.

Menjaga kesehatan mental salah satunya bisa dilakukan dengan memberikan penghargaan pada diri sendiri, -yang saat ini sering disebut me time. Semakin mahir ibu bekerja, semakin efektif, semakin efisien, semakin beliau memiliki banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang disukainya. Bersepeda, shoping, berselancar di dunia maya, apapun aktivitas yang menyenangkan untuknya. Ibu, manusia yang ditakdirkan memiliki banyak urusan di dalam tangannya. Terkadang sangat melelahkan memiliki banyak hal yang harus diselesaikan, membuat frustrasi, jengkel, marah namun inilah anugerah yang dititipkan Tuhan dan harus dijaga. Salam hormat dari saya, calon perempuan bertangan seribu yang bergerak secepat angin.  



sumber ilustrasi https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Durga2.jpg&filetimestamp=20060129004955&

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUALAN

Kita Mampu Menggoncang Dunia

DOSA