Orang Kelewat Pintar Tidak Pandai Mengajar


Secara naluriah manusia dilahirkan untuk dapat mengajarkan sesuatu kepada sebangsanya. Mengajarkan sesuatu adalah hal yang setiap orang lakukan, meskipun seringkali tidak disadari. Seorang Bapak perokok tanpa meminta anaknya untuk menirukan gaya hidup perokoknya telah menyampaikan informasi bahkan mencontohkan kepada anaknya bahwa rokok tidak berbahaya, sebab kalau berbahaya tidak mungkin Bapaknya menghabiskan berbatang-batang Malboro setiap harinnya. Lebih parah lagi Bapak perokok telah membuat pengajaran bagi anaknya bahwa merokok adalah hal yang lumrah, menciptakan kesenangan serta barangkali justru mendatangnya banyak manfaat, sebab beliau rutin mengkonsumsinya setiap hari. Sekalipun sang Bapak mengatakan pada anak-anaknya untuk tidak pernah mendekati rokok, gagasan bawah sadar anak mengatakan bahwa pernyataan tersebut salah, sebab yang dicontohkan justru sebaliknya.
Ada contoh lain dari pengajaran yang tidak sengaja dilakukan oleh manusia. Mencontek di kelas. Bagi kelas yang di dalamnya terdapat anak-anak dengan tekat dan pondasi nilai yang lemah, ajaran mencontek sangat mudah diberikan. Andaikan ada satu saja siswa yang malam sebelum ujian kedapatan temannya membuat contekan untuk ujian keesokan harinya, teman yang lain akan terburu-buru mengikuti kegiatan membuat contekan ujian beramai-ramai. Meskipun Bapak-Ibu guru telah menyampaikan berulang-ulang bahwa mencontek tidak diperkenankan dalam ujian, dan ada sanksi yang harus diberikan sebagai konsekuensi dari perbuatan tersebut. Sedikit saja godaan dari teman bahwa ada cara-cara jitu agar mencontek tidak ketahuan dengan mudah menghilangkan rekaman ingatan anak perihal peringatan guru mereka.
Dari dua ilustrasi tersebut pemodelan adalah faktor penentu dalam proses belajar manusia secara tidak sadar. Dalam buku-buku teks disebutkan bahwa belajar adalah usaha sadar untuk merubah perilaku. Pada kenyataannya manusia memiliki kemampuan ajaib. Manusia mampu belajar dan memperoleh atau merubah perilaku tertentu secara tidak disengaja. Salah satu cara paling ampuh adalah dengan berulangkali “melihat pemodelan” tertentu. Otak lebih banyak menyimpan informasi yang disuguhkan secara visual dibandingkan audio. Seseorang yang melihat mikroba melalui mikroskop akan lebih mudah mengingat bagian-bagian dari organisme tersebut ketimbang mereka yang hanya secara lisan dibacakan oleh guru di depan kelas.
Kemudian apakah hubungan semua itu dengan orang yang kelewat pintar tidak pandai mengajar? Sebenarnya saya rasa ini tidak ada hubungannya. Pemodelan adalah sesuatu yang seringkali tidak disadari pemodel ataupun pembelajar bahwa mereka sedang menjalin sebuah buhungan (pengajar dan pembelajar). Orang yang kelewat pintar tentu dapat pula diamati bagaimana kehidupan keseharian mereka, meskipun beberapa aktivitas cenderung susah dipahami.
Lalu mengapa saya mengatakan orang yang kelewat pintar tidak pandai mengajar? Pembelajaran selain mengandalkan pemodelan juga membutuhkan alat komunikasi, baik lisan maupun tulis. Manusia sebagian besar terlahir dengan kemampuan rata-rata. Hanya sedikit persentasi manusia yang lahir dengan kemampuan super atau di bawah rata-rata. Kemampuan-kemampuan manusia banyak dipengaruhi oleh kapasitas otak mereka, meskipun dalam berbagai kasus latihan-latihan akan mengembangkan kemampuan tersebut.  Orang yang pintar akan memiliki kecenderungan memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang pada umumnya, begitu pula dengan kecepatan berpikir mereka. Kecepatan berpikir ini gawatnya juga berpengaruh dengan gaya mereka menyampaikan informasi. Saya banyak mengamati bahwa orang kelewat pintar seringkali melompati informasi penting (bagi orang kebanyakan) karena menganggap pendengarnya sudah memahami informasi yang disampaikan tanpa menjelaskan terlebih dahulu informasi yang hilang tersebut. Kecepatan kerja otak mereka juga mendorong mereka untuk menyampaikan informasi secara cepat sehingga cara berbicara mereka akan cenderung lebih ngebut.
Gagasan ini yang melandasi munculnya model belajar peer teaching,  siswa dengan latar perkembangan yang sama dengan kemampuan yang relatif setara lebih mudah saling memberikan informasi baru ketimbang gurunya yang menyampaikan. Sebab secara kebahasaan, kebiasaan maupun secara psikologis keadaan yang “serupa” tersebut lebih memudahkan anak untuk mendapatkan informasi yang ingin diperoleh. Latar belakang yang serupa mendorong “penyampai informasi” lebih memahami kondisi “penerima informasi”, menyesuaikan gaya penyampaian dan trala….., informasi secara cepat dapat terserap oleh pembelajar.
 Apakah semua orang kelewat pintar tidak bisa menjadi pengajar yang baik? Tentu saja tidak. Sebagian yang mampu menyelami, merasakan, mendalami dan memahami pendengarnya dengan baik akan mampu menyampaikan informasi dengan sempurna. Permasalahannya adalah untuk memahami sesuatu yang tidak bisa kita rasakan memerlukan berbagai usaha yang luar biasa. Orang yang belum pernah patah hati akan menyepelekan rasanya putus cinta karena mereka belum pernah tahu bagaimana rasanya.
Jadi pada intinya jangan pernah menuntut orang pintar untuk selalu menjadi pengajar yang sempurna sebab pintar saja tidak cukup untuk menjadi guru yang baik. Semua orang mampu menjadi pengajar yang handal, apalagi orang yang pintar atau bahkan kelewat pintar, dengan syarat orang tersebut mau untuk belajar menjadi pengajar yang baik. Dan ngomong-ngomong, ketika pembelajar kita orang dengan kapasitas biasa saja namun memiliki pengajar seorang jenius, usaha yang harus ditempuh pengajar jenius untuk mengajar lebih banyak dibanding pengajar dengan kemampuan biasa saja. Hal ini dikarenakan pengajar jenius harus mempelajari bagaimana menjadi orang biasa dan memaksa dirinya untuk menyesuaikan diri dengan hal tersebut, sedangkan pengajar yang memiliki kemampuan biasa saja tidak perlu repot-repot melakukannya.


Pacitan, 27 Februari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUALAN

Kita Mampu Menggoncang Dunia

DOSA